Selasa, 02 April 2013

PERAN PERAWAT DAN KOMPETENSI YANG HARUS DIMILIKI DALAM PRE HOSPITAL PENANGANAN BENCANA


ESSAY
PERAN PERAWAT DALAM PRE HOSPITAL PENANGANAN BENCANA DAN KOMPETENSI YANG HARUS DIMILIKI PERAWAT DALAM PERSIAPAN PENANGANAN BENCANA DI INDONESIA


http://akademikkebidanan.staff.ub.ac.id/files/2012/02/logo-FKUB.jpg



Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester (UTS)
Dasar-Dasar Keperawatan Gawat Darurat

Dosen: Ns. Ika Setyo Rini, S. Kep., M. Kep



Oleh:
ANISSA CINDY NURUL AFNI
126070300111015




PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN
PEMINATAN GAWAT DARURAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Undang-Undang No. 24 tahun 2007 mengartikan bencana sebagai suatu peristiwa luar biasa yang mengganggu dan mengancam kehidupan dan penghidupan yang dapat disebabkan oleh alam ataupun manusia, ataupun keduanya (Toha, 2007). Angka kejadian bencana yang terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir cukup tinggi. Sejak bencana tsunami Aceh tahun 2004 hingga saat ini hampir setiap tahunnya terjadi bencana baik itu tsunami, gempa bumi, gunung meletus, dan bom Bali (BNPB 2010). Dan yang tidak kalah hebat adalah banjir di hampir seluruh pulau-pulau besar Indonesia awal tahun 2013 serta masalah lumpur lapindo yang tidak juga kunjung usai hingga saat ini.
Akibat yang ditimbulkan bencana memberikan pengaruh yang sangat besar manusia dan lingkungan sekitarnya seperti kematian masal, kecacatan, kelaparan, kemisikinan dan kehancuran infrastruktur (Mizam, 2012). Namun, sejauh ini, penanganan bencana di Indonesia belum banyak mengalami perkembangan sejak tsunami Aceh tahun 2004 (Ed: Euis Sunarti, 2009).
Untuk menurunkan dampak yang ditimbulkan akibat bencana, dibutuhkan dukungan berbagai pihak termasuk keterlibatan perawat sebagai bagian dari sebuah negara. Perawat sebagai tenaga kesehatan hendaknya berada di lini terdepan dalam penanganan bencana di Indonesia. Diperlukan suatu pengetahuan dan kompetensi yang mumpuni oleh seorang perawat untuk mengimbangi potensi dan kompleksitas bencana dan dampaknya yang mungkin akan lebih besar pada masa mendatang.
Peran perawat dapat dimulai sejak tahap mitigasi (pencegahan), tanggap darurat bencana dalam fase pre hospital dan hospital, hingga tahap recovery. Melihat betapa besarnya peran perawat dalam kondisi bencana, penulis tertarik untuk mengangkat judul peran perawat dalam sistem pre hospital penanganan bencana dan kompetensi yang harus dimiliki oleh perawat dalam persiapan penanganan bencana di Indonesia sebagai bahan kajian.

B.   Tujuan Penulisan
  1. Tujuan Umum
Memberikan gambaran peran perawat dalam sistem pre hospital penanganan bencana di Indonesia selama ini dan keterampilan yang harus dimiliki perawat dalam persiapan penanganan bencana di Indonesia masa datang.
  1. Tujuan Khusus
a.    Memberikan gambaran pre hospital penanganan  bencana.
b.    Memberikan gambaran peran perawat selama ini dalam sistem pre hospital penangana bencana di Indonesia.
c.    Memberikan gambaran keterampilan yang harus dimiliki perawat dalam persiapan penanganan bencana di Indonesia masa mendatang.

C.   Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah studi literatur dari berbagai jurnal dan buku yang terkait dengan topik konsep peran perawat dalam pre hospital penanganan bencana dan kompetensi yang harus dimiliki perawat dalam persiapan penanganan bencana di Indonesia.

D.   Sistematika Penulisan
  1. BAB I Pendahuluan
a.    Latar belakang
b.    Tujuan penulisan
c.    Metode penulisan
d.    Sistematika penulisan.
  1. BAB II Tinjauan Teori
a.    Manajemen pre hospital penanganan bencana
b.    Peran perawat pada sistem pre hospital penanganan bencana
c.    Kemampuan yang harus dimiliki perawat dalam persiapan penanganan bencana
  1. BAB III Pembahasan
a.    Gambaran peran perawat dalam pre hospital penanganan bencana di Indonesia
b.    Keterampilan yang harus dimiliki perawat dalam persiapan penanganan bencana di Indonesia
  1. BAB IV Penutup
a.    Kesimpulan
b.    Saran
  1. Daftar Pustaka

BAB II
TINJAUAN TEORI

A.   Manajemen Pre Hospital Penanganan Bencana
Tujuan utama dari penanganan bencana adalah menghindari atau meminimalkan kerugian yang terjadi akibat bencana. Selain itu, bertujuan mengurangi penderitaan yang dialami korban dan mempercepat proses pemulihan. Tujuan terakhir adalah memberikan perlindungan bagi korban akibat dampak bencana (Mizam, 2012).
Dampak yang ditimbulkan akibat bencana adalah dampak fisik, psikis, sosial, material dan ekonomi serta kerusakan infrastruktur. Dampak fisik yang sering ditemukan pada kondisi bencana adalah gangguan jalan nafas, gagal pernafasan, perdarahan tidak terkontrol, trauma dan kondisi non-trauma lain yang terkadang juga dapat menimbulkan kematian. Semua kondisi tersebut membutuhkan manajeman pre hospital bencana yang tepat dan cepat dari tenaga kesehatan dalam memberikan respon.
Manajemen pre hospital adalah pemberian pelayanan yang diberikan selama korban pertama kali ditemukan, selama proses transportasi hingga pasien tiba di rumah sakit. Penanganan koban selam fase pre hospital dapat menjadi penentu kondisi korban selanjutnya. Pemberian perawatan pre hospital yang tepat dan cepat dapat menurunkan angka kecacatan dan kematian akibat trauma (WHO, 2005).
Pelayanan yang dapat diberikan pada tahap pre hospital adalah langkah-langkah pertolongan dasar dan dilanjutkan dengan penanganan advanced pre hospital. Pertolongan dasar dapat dimulai dari initial assasment terhadap korban, evakuasi korban, pemberian oksigenasi, pemantauan kondisi pasien termasuk tingkat kesadaran, dan perawatan luka. Perawatan kemudian dilanjutkan dengan penanganan advanced pre hospital seperti pemberian terapi cairan, krikotiroidektomi, intubasi endotrakeal, dan perawatan selama proses transportasi pasien ke rumah sakit. Selain itu, selama proses transport juga dibutuhkan monitoring dan observasi kondisi pasien (WHO, 2005).

B.   Peran Perawat pada Sistem Pre Hospital Penanganan Bencana
Peran perawat dalam tahap pre hospital dimulai sejak terjadinya bencana (fase tanggap darurat), selama proses transportasi hingga pasien tiba di rumah sakit rujukan baik itu rumah sakit lapangan mauapun rumah sakit rujukan. Peran perawat pada tahap ini antara lain: pengkajian status korban (intial assasment), penentuan masalah yang dialami korban, penentuan tindakan berdasarkan kondisi dan kebutuhan korban, koordinasi dengan tim medis lain dalam pemberian terapi terhadap korban dan komunikasi dengan rumah sakit sebagai pusat rujukan (AWHONN, 2012).
Perawat juga berperan sebagai fasilitator komunikasi dan koordinasi antara tim tenaga kesehatan, korban dan keluarga. Komunikasi yang jelas dan tepat selama proses penanganan korban bencana menjadi hal yang sangat penting dalam perencanaan dan respon terhadap bencana. Komunikasi yang dimaksud dapat berupa komunikasi verbal dan non verbal baik melalui elektronik maupun dokumentasi keperawatan (AWHONN, 2012).
  
C.   Kemampuan yang Harus Dimiliki Perawat Dalam Persiapan Penanganan Bencana
Agar mampu menjalankan perannya dengan tepat dalam situasi luar biasa seperti bencana, International Nursing Coalition for Mass Casuality Education (INCMCE) (2003) mengungkapkan bahwa terdapat standar kompetensi dan pengetahuan minimal yang harus dimiliki oleh seorang perawat. Kemampuan yang harus disiapkan oleh perawat dalam penangan bencana antaralain; manajemen bencana, manajemen rumah sakit lapangan, emergency nursing, Advanced Trauma Life Support (ATLS) dan Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS) (Raharja, 2010).
Selain itu, World Health Organization (WHO) dan International Council of Nurses (ICN) menyusun suatu formulasi konsep kerja ICN dalam penyusunan kompetensi keperawatan bencana. Kompetensi ini diharapkan mampu menjelaskan mengenai peran perawat dalam bencana. Selain itu, diharapkan juga dapat menjadi pedoman dalam perencanaan pelatihan dan pendidikan manajemen bencana bagi perawat (Chan, Chan, Cheng, Fung, Lai, Leung, Leung, Li, Yip, Pang, 2010).
Kompetensi keperawatan bencana yang disusun oleh ICN dikembangkan berdasarkan empat area yaitu; public helath, mental health, management emergensi, disaster nursing. Keempat konsep kerja kemudian dikembangkan menjadi sepuluh domain yang tercakup dalam empat kategori yang disesuaikan dengan manajemen penanganan bencana yaitu; kompetensi mitigasi-prevention, preparedness competencies, response competencies, dan recovery competencies (Chan dkk, 2010).
Kompetensi yang dibutuhkan yaitu; promosi kesehatan dalam tahap mitigasi, triage, komunikasi dan transportasi, pre hospital transfer skills, wound management, interviewing skills, dan psychological first aid, pengkajian individu, keluarga dan komunitas (Chan dkk, 2010). Selain kompetensi di atas, ICN juga menyebutkan terdapat beberapa kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seluruh perawat adalah pengkajian kardiovaskular, pengkajian luka bakar, pengkajian mental status, dan manajemen crush injuries dan fraktur. Kompetensi ini yang dianggap sangat penting oleh ICN sehingga tidak hanya diberikan melalui pelatihan, tetapi juga hendaknya kompetensi ini menjadai kompetensi dasar yang diberikan dalam kurikulum pendidikan keperawatan sejak dini (Chan dkk, 2010). 


BAB III
PEMBAHASAN

A.   Gambaran Peran Perawat dalam Pre Hospital Penanganan Bencana di Indonesia
Bencana tidak dapat diprediksi kapan dan dimana akan terjadi. Banyaknya hal yang dapat dilakukan perawat dalam tahap pre hospital bencana menjadikan perawat memiliki peran yang sangat penting. American Nursing Asociation (ANA) menyebutkan bahwa tujuan aktifitas perawat dalam bencana adalah pengkajian terhadap pasien, keluarga dan komunitas untuk memunculkan masalah emosional, fisik, psikososial, spiritual, cultural, dan kondisi lingkungan yang membutuhkan pertolongan perawat (Goodwin, 2007).
Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan memiliki peran sentral dalam penanggulangan dan penanganan bencana. Namun sejauh ini dapat dilihat bahwa kurangnya peran perawat dalam penanganan sebuah bencana tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Hal ini dapat dimungkinkan akibat kurangnya percaya diri perawat dalam penanganan bencana akibat kuranganya pengetahuan ataupun kompetensi yang dimiliki.
Penelitian yang dilakukan  oleh Cut Husna (2011) kepada 97 perawat rumah sakit di Banda Aceh menemukan bahwa kompetensi klinik yang dimiliki perawat dalam penanganan tsunami berada dalam level moderate atau pertengahan dengan skala yang digunakan rentang rendah, pertengahan hingga tinggi. Hal ini berkontribusi terhadap kecakapan perawat dalam pemberian pelayanan kesehatan selama tsunami (Husna, 2011).
Collander (2007) menyebutkan dalam penelitiannya bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi penerimaan pasien dalam bencana tsunami adalah tidak efisiennya respon tenaga medis dan skill yang ditunjukkan perawat dalam penanganan bencana. Ketidakefisienan ini diakibatkan kurang cakapnya penggunaan peralatan dan perlengakapan yang ada yang mendukung penanganan. Selain itu, Collander juga menyebutkan ketidakpuasan pasien akibat ketidakadekuatan nursing care, medical care, keterbatasan komunikasi dan manajemen evakuasi pasien yang kurang tepat (Collander, 2007).
Kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan terjadi di seluruh wilayah di Indonesia. Namun minimnya survey terkait kompetensi yang harus dimiliki oleh perawat dalam menghadapi bencana menjadi kendala tersendiri untuk melihat peran perawat Indonesia dalam menghadapi bencana. Melihat kondisi tersebut, sangat disayangkan sekali bahwa Indonesia yang notabennya adalah negara yang rawan bencana tidak mempersiapkan perawatnya dalam penanganan bencana.

B.   Keterampilan yang Harus Dimiliki Perawat dalam Persiapan Penanganan Bencana di Indonesia
Kondisi emergensi dan disaster merupakan suatu peristiwa yang membutuhkan kompetensi yang unik dalam penanganannya. Dalam setiap tahapan penanganan bencana, perawat membutuhkan kompetensi yang berbeda-beda. Pada tahap mitigasi-prevention and preparedness competencies, kompetensi yang dibutuhkan adalah public health promotion and education. Pada tahap ini perawat memiliki peran untuk memberikan pendidikan dan promosi kesehatan terkait pencegahan bencana, tanda-tanda bencana, penanggulangan bencana oleh masyarakat dan juga respon masyarakat saat terjadi bencana. Sehingga persiapan yang perlu dilakukan perawat adalah meningkatkan pengetahuannya terkait bencana dan manajemen bencana.
Penelitian yang dilakukan oleh Dewi Hermawati (2010) bertujuan mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan keterampilan perawat dalam kesiapsiagaan bencana (preparedness) serta menyelidiki hubungan antara keparahan dan risiko yang dirasakan, pengalaman klinis, pelatihan dan pendidikan dan juga kehadiran perawat dalam simulasi manajemen bencana di rumah sakit serta pengetahuan dan keterampilan kesiapan perawat dalam merawat pasien akibat tsunami. Hasil penelitian menunjukkan keparahan dan risiko yang dirasakan, pengalaman klinis, pelatihan dan pendidikan memiliki tingkat signifikansi korelasi yang rendah dengan pengetahuan dan keterampilan perawat yang dirasakan dalam menghadapi bencana. Hermawati menyimpulkan bahwa diperlukan penyusunan kurikulum perawat dalam tatanan klinik mengenai kesiapan perawat dalam menghadapi bencana (Hermawati, 2010).
Penelitian lain dilakukan oleh Fung dkk (2008) kepada 164 perawat Register Nurse (RN) yang melanjutkan study S 2 Keperawatan di Universitas di Hongkong. Penelitian ini menyebutkan, untuk mendukung kemampuan perawat dalam penanganan bencana, terdapat beberapa kompetensi yang harus dipenuhi yaitu: First aid, Basic Life Support (BCLS), Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS), infection control, field triage, pre-hospital trauma life support, advanced trauma care nursing, post traumatic psychological care, dan peri-trauma counseling (Fung, Loke, and Lai, 2008).
Penelitian serupa juga dilakukan oleh Yin dkk (2011) kepada 24 perawat yang menjadi bagian dalam penanganan bencana gempa bumi di Wenchuan. Hasil penelitian yang didapatkan terhadap kompetensi yang sangat penting harus dimiliki perawat saat terjadi bencana adalah; intravenous insertion, monitoring dan observasi, mas casualty triage, manajemen pasien trauma (control homeostatis, bandaging, fixation, manual handling), dan mas casualty transportation. Sedangkan kompetensi yang sering digunakan adalah: debridement dan dressingintravenous insertion, observasi dan monitoring. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa kompetensi membutuhkan pelatihan khusus, seperti: mas casualty transportation, emergensi manajemen, dan trauma manajemen (Yin,He, Arbon, Zhu,  2011).
Kesimpulan hasil penelitian yang dilakukan Yin dkk (2011), terdapat 11 kompetensi yang dibutuhkan oleh perawat untuk dapat ikutserta dalam penanganan bencana. Kompetensi yang harus dimiliki tersebut antaralain; mas casualty transportation, emergency management, trauma management, monitor dan observasi, mas casualty triage, controlling specific infection, psychological clinis intervention, CPR, debridement and dressing, centralvenouse chateterisation, patient care recording.
Hasil penelitian yang didapatkan oleh Yin (2011) menunjukkan hasil yang sedikit berbeda dengan yang dilakukan oleh Fung (2008). Hal ini terjadi karena partisipan pada masing-masing penelitian memiliki karakteristik berbeda. Pada penelitian Yin, partisipan yang terlibat mengalami sendiri ikut serta dalam tim penanganan bencana gempa bumi di Wenchuan, sedangkan partisipan Fung belum memiliki pengalaman dalam penanganan bencana.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian-penelitian yang telah dijabarkan di atas, kompetensi yang harus dimiliki perawat dalam persiapan penanganan bencana dapat dirangkum ke dalam 11 kompetensi. Kompetensi tersebut adalah; public helath promotion and education, mas casualty transportation/prehospital transportation, emergency management (BLS and ACLS), trauma management (BLS dan ATLS), monitor dan observasi, mas casualty triage, controlling specific infection, psychological first aid and crisis intervention, wound management (debridement and dressing), community health assessment dan terakhir patient care recording. Kesebelas kompetensi tersebut diharapkan mampu mencakup keseluruhan peran perawat dalam tiap tahapan manajemen bencana yang diklasifikasikan oleh ICN yaitu tahap mitigasi-prevention, preparedness competencies, response competencies, dan recovery competencies.
Penelitian yang dilakukan oleh Husna (2011) mendukung kesebelas kompetensi yang telah disebutkan di atas. Dimana beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh perawat ketika akan berperan dalam penanganan bencana adalah triage, acute respiratory care, spiritual care, mental health care, wound care, patient referral, psychosocial care. Selain itu, kompetensi lain yang memerlukian pelatihan adalah BLS, ATLS, ACLS, BTLS, disaster management, dan mental health care untuk penanganan tsunami (Husna, 2011).  



BAB IV
PENUTUP

A.   Kesimpulan
  1. Manajemen pre hospital adalah pemberian pelayanan yang diberikan selama korban pertama kali ditemukan, selama proses transportasi hingga pasien tiba di rumah sakit. Pelayanan yang diberikan adalah langkah-langkah pertolongan dasar dan dilanjutkan dengan penanganan advanced pre hospital.
  2. Gambaran peran perawat dalam tahap pre hospital penanganan bencana masih kurang. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya kepercayaan diri perawat, kurangnya pengetahuan dan kompetensi dalam penanganan bencana.
  3. Terdapat sebelas kompetensi yang harus disiapkan perawat dalam tahap prehospital yaitu; mas casualty transportation/prehospital transportation, emergency management (BLS and ACLS), trauma management (BLS dan ATLS), monitor dan observasi, mas casualty triage, controlling specific infection, psychological first aid, wound management (debridement and dressing), dan terakhir patient care recording.

B.   Saran
  1. Perawat hendaknya lebih proaktif untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi dalam manajemen penanganan bencana dengan mengikuti pelatihan-pelatihan manajemen bencana.
  2. Rumah sakit hendaknya memberikan dukungan dengan memfasilitasi diadakannya pelatihan kompetensi-kompetensi yang terkait manajemen penanganan bencana bagi perawatnya.


DAFTAR PUSTAKA

Association of Women’s Health Obstetric and Neonatal Nurses (AWHONN). (2012). The role of the nurse in emergency preparedness.  JOGNN. 41: 322-324.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2010). Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Safe Comunities Through Disaster Risk Reduction (SC-DRR).
Chan, S, S, S., Chan, W., Cheng, Y., Fung, O., Lai, T, K., Leung, A, W, K., Leung, K., Li Sijian, Yip, A., Pang, S. (2010). Development and Evaluation of an Undergraduate Training Course for Developing International Council of Nurses Disaster Nursing Competencies in China. Journal of Nursing Scholarship. 42 (2): 405-413.
Collander, B., Green, B., Millo, Y., Shamloo, C., Donnellan, J., & Deatley, C. (2007). Development of an “All-Hazards” hospital disaster preparedness training course utilizing multi-modality teaching. Prehospital and Disaster Medicine. 63-68
Euis Sunarti (Ed). (2009). Evaluasi Penanggulangan Bencana di Indonesia (Lesson Learned 2006-2007). Pusat Studi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masayarakat Institust Pertanian Bogor.
Fung, O, W, M., Loke, A, Y, and Lai, C, K, Y. (2008). Disaster preparedness among Hong Kong nurses. Journal of Advanced Nursing. 62(6): 698-703.
Goodwin, V, T (Ed). (2007). Disaster Nursing and Emergency Preparedness: For Chemical, Biological and Radilogical Terrosism and Other Hazards. Second Edition. Library of Congress Cataloging. www.ebooke.org
Hermawati, D. (2010). Nurses’s perceived preparedness of knowledge and skills in caring for patients attacked by tsunami in Banda Aceh, Indonesia and Its related factors. The 2nd International Conference on Humanities and Social Sciences. Faculty of Liberal Arts. Prince of Songkla University.
Husna Cut. (2011). Emergency training, education and perceived clinical skills for tsunami care among nurses in Banda Aceh Indonesia. Nurse Media Journal of Nursing. 1: 75-86.
Mizam Ari Kurniyanti. (2012). Peran Tenaga Kesehatan dalam Penanganan Bencana. Program Studi Keperawatan STIKES Widya Gamahusada.  Jurnal Ilmiah Kesedatan Media Husada I. Vol 01. No. 01. Agustus .
Raharja, Eddie. (2010). Pengaruh Kompetensi Kepemimpinan dalam Pengorganisasian Kesiapsiagaan dan Penggerakan Kegawatdaruratan Bencana Terhadap Kinerja Petugas Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Regional Sumatra Utara. Universitas Sumatera Utara.
Toha, M. (2007). Berkwan dengan Ancaman; Strategi dan Adaptasi Mengurangi Resiko Bencana. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.
Training Course for Developing International Council of Nurses Disaster Nursing Competencies in China. Journal of Nursing Scholarship. 42(4): 405-413.
World Health Organization (WHO). (2005). Pre hospital Trauma Care System.
Yin. H., He. H., Arbon, P., Zhu. J. (2011). A survey of the practice of nurse’s skills in Wenchuan earthquake disaster sites; implication for disaster training. Journal of Advanced Nursing. 67(10): 2231-2238.   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar